1. Pengertian Kata

            Bagi para jurnalis penggunaan bahasa merupakan hal yang paling penting dalam penyampaian pesan. Penggunaan kata yang tepat akan menghasilkan pesan yang baik dan juga berbobot. Apalagi ketika seorang reporter yang menyampaikan informasi atau berita secara langsung di televisi, tentu saja harus fasih dalam berbahas dan menguasai kosa kata. Sesungguhnya, seseorang dalam bidang tersebut harus menguasai segala sesuatunya agar tidak tertatih dalam berbagi informasi. Kata sendiri adalah sebuah rangkaian bunyi atau simbol tertulis yang menyebabkan orang berpikir tentang suatu hal. Makna kata pada dasarnya diperoleh karena persetujuan informal (konvensi) antara sekelompok orang yang menyatakan hal atau barang tertentu melalui rangkaian bunyi tertentu. Dengan kata lain kata memiliki arti sebagai persetujuan atau konvensi umum tentang interelasi antara sebuah kata dengan referensinya (barang atau hal yang diwakilinya) (Keraf, 2004:88). Menurut kamus, kata adalah apa yang dilahirkan dengan ucapan, ujar, bicara, cakap, ungkapan, gerak hati, keterangan. Kata adalah satu kesatuan bunyi bahasa yang mengandung suatu pengertian (Anwar, 2002:224)

A. Makna Kata Jurnalistik

1. Pengertian Makna

                Menurut kamus, makna adalah arti atau maksud sesuatu kata. Sedangkan menurut para ahli, makna adalah hubungan antara bahasa dan dunia luar yang telah disepakati oleh para pemakai bahasa sehingga dapat dimengerti (Bolinger, 1981:108 dalam Aminuddin, 2003:153). Pada tingkat pertama, makna menjadi isi abstraksi dalam kgiatan bernalar secara logika sehingga membuahkan proposisi kebahasaan. Kedua, makna menjadi isi dari suatu bentuk kebahasaan. Ketiga, makna menjadi isi komunikasi yang mampu membuahkan informasi tertentu (Aminuddin, 2003:7). Menurut Aminuddin, 2003:8, mengkaji dari ketiga makna tersebut pada tingkatan pertama adalah membuahkan pemahaman tentang cara mengolah pesan secara benar. Yang kedua, menghasilkan pemahaman tentang cara menata struktur kebahasaan secara benar sehingga menghasilkan makna seperti yang diinginkan. Dan yang ketiga, menghasilkan pemahaman tentang cara mengungkapkan struktur kebahasaan itu dalam konteks komunikasi secara tepat.

                Filosof dan para ahli linguis mencoba menjelaskan tiga hal yang berhubungan dengan makna , yakni:

  • Makna secara ilmiah (makna inheren)
  • Mendeskirpsikan makna kalimat secara ilmiah (makna kategori)
  • Menjelaskan proses komunikasi (Kempson, 199:1 dalam Djajasudarma, 1993:6)

Arti makna didalam kamus bagi orang awam ialah makna leksikal. kata perempuan dalam makna leksikal ialah wanita. Tetapi, maknanya akan berbeda jika dilihat hubungannya dengan unsur lain seara gramatikal.

Contoh:

  1. Perempuan itu adalah ibu saya
  2. Ih, dasar perempuan!

Dalam konteks (a) memiliki makna emotif, yang budi bahasanya halus, keibuan. Sedangkan konteks (b) mencerminkan sebaliknya. Misalnya tamak, rakus, matre, dsb (makna konotatif). Hal ini tentu saja tergantung konteks kalimat dan situasi. Dalam ilmu semantik, ada dua jenis makna. Yaitu makna denotatif dan konotatif.

  1. Makna Denotatif

                  Kata denotatif ialah kata yang tidak mengandung makna atau perasaan-perasaan tambahan, sedangkan maknanya disebut makna denotatif. Makna denotatif disebut juga dengan berbagai istilah lain seperti makna denotasonal, makna kognitif, makna konseptual, makna ideasional, makna refrensial, atau juga makna proposional. Karena setiap kata memiliki denotasi, maka penulis harus mempersoalkan apakah kata yang dipilihnya sudah tepat.

       Bahasa jurnalistik harus mengutamakan kata-kata dan kalimat denotatif dibandingkan dengan kata-kata dan kalimat konotatif. Karena karya jurnalistik bukanlah karya sastra yang bertahun-tahun lamanya yang menggunakan kalimat atau kata-kata konotatif. Sebaliknya, karya jurnalistik adalah sebuah berita atau feature yang hanya memiliki waktu menit, jam, atau hari. Selain itu, karya jurnalistik berisikan kata-kata yang sudah ditentukan. Karya jurnalistik atau berita tersebut disampaikan secara sederhana, singkat, padat lugas, apa adanya, sesuai fakta, dan tidak bertele-tele agar pembaca atau pendengar dapat memahami maksud isinya.

Contoh kalimat denotatif:

  1. Dalam musibah banjir itu diperkirakan 10 orang tewas (denotatif)
  2. Dalam musibah banjir itu banyak sekali orang yang tewas (konotatif)

  1. Makna Konotatif

                          Makna konotatif kebalikan dari makna denotatif, yaitu makna atau kata yang ditambahkan, perasaan tertentu atau nilai rasa tertentu di samping makna dasar yang umum. Konotasi atau makna konotatif disebut juga makna konotasional, makna emotif, atau makna evaluatif. Menurut Keraf 2004:27-29, makna konotatif sebagian terjadi karena pembicara ingin menimbulkan perasan setuju tidak setuju, senang-tidak senang pada pihak pedengar. Dipihak lain, kata yang dipilih itu memperlihatkan bahwa pembicaranya juga memendam perasaan yang sama.

Contoh kalimat konotatif:

  1. Banyak perusahaan-perusahaan gulung tikar akibat kebakaran yang terjadi Kamis malam.
  2. Ustad kenamaan yang disapa Uje tutup usia karena kecelakaan tunggal malam dini hari.

Kalimat (a) menggambarkan situasi perusahaan yang bangkrut karena kebakaran sedangkan (b) mengartikan bawa ustad kenamaan Uje itu meninggal dunia karena kecelakaan tunggal yang menimpanya.

Advertisements